![]() |
| Pantai Coro yang masih perawan |
Mendengar
namanya saja, saya sudah menebak kalau pantai ini pasti banyak coro (kecoa). Tapi memang ada coro di pantai? Akhirnya saya dan
teman-teman JRS Tulungagung mengagendakan perjalanan di tahun April 2014 lalu.
Belum
ada petunjuk jalan menuju pantai Coro ini. Namun lokasinya tidak jauh dari
pantai Popoh. Dari pasar Campurdarat, ikutilah jalur kiri menuju pantai Popoh. Setelah
melewati pintu gerbang pantai Popoh, terdapat jalan bercabang dua. Arah kanan
mengarah ke pantai Popoh dan kiri mengarah ke pantai Coro. Carilah jalan menuju
Reco Sewu. Pantai Coro ini terletak di Desa Gerbo Kecamatan Besuki Tulungagung.Penitipan
sepeda motor berada di area Reco Sewu tersebut.
Kali
ini saya dan teman-teman harus berjalan kaki mengelilingi kebun dan ladang yang
ada di perbukitan milik warga sekitar 2 km perjalanan. Medan ini tidak bisa
dilalui motor. Kalaupun bisa hanya menggunakan motor khusus untuk menghindari
roda yang terselip.
![]() |
| V pose |
![]() |
| Menyusuri ladang dan pepohonan jati |
Apalagi
belum ada jalan setapak maupun petunjuk jalan menuju arah pantai Coro. Untung
saja beberapa teman saya pernah datang ke pantai ini sebelumnya, jadi kami tak
kesulitan mencari jalan di antara pepohonan jati dan tanaman milik warga. Setelah
berjalan beberapa puluh menit, barulah kami mencium aroma pantai. Ya, kami para
cewek seringkali minta istirahat dan mungkin membuat si cowok-cowok kesal. hehe,
sumimasen.
![]() |
| Mulai terlihat pantai dan aroma lautan |
Akhirnya
inilah pantai yang sudah lama membuat saya selalu penasaran. Belum banyak
pengunjung yang datang. Apalagi waktu itu pantai sedang surut sehingga saya
bisa melihat karang-karang terhampar dengan beberapa ikan kecil yang
terperangkap di dalamnya. Namun karang-karang di sini masih cukup tajam. Saya
harus berhati-hati, terlebih salah satu teman juga terluka oleh goresan karang.
![]() |
| Karang-karang terlihat saat air surut |
![]() |
| Pemandangan langka: Karang indah, ikan dan bulu babi bisa dilihat dengan jelas saat air surut |
Liburan
kali ini seperti piknik. Rasa kekeluargaan yang kami jalin kurang lebih 5 tahun
silam terasa lebih erat. Ya, kami lebih menyebut diri kami Paseduluran JRSC
Tulungagung daripada sebuah komunitas musik. Karena dengan adanya kata ‘Dulur’
di sana menjadikan ikatan kami lebih murni, tidak sebatas teman dengan hobi
yang sama saja tapi juga kekerabatan yang saling membantu satu sama lainnya.
Oh
iya, masalah coro atau yang saya kira
akan banyak ditemui disini ternyata semua salah. Tidak ada kecoa sama selaki.
Lalu, kok dinamakan pantai Coro?
Ternyata ada beragam pendapat sehingga pantai ini bernama pantai Coro. Beberapa
artikel menyebutkan bahwa dulunya ketika ditemunan, pantai ini terdapat banyak
rumah coro. Artikel lain menyebutkan
kalau coro diambil dari nama dusun setempat. Ya, belum jelas kenapa pantai ini
disebut pantai Coro. Yang pasti, di sini tidak ada coro atau kecoa nya. Oke.
We
are JRS, Satu Spirit!!
Tulungagung, 11
Desember 2015










0 Comments